pro dan kontra pengemis- ECOLA Jurnal Depok 21-01-10

gw lupa gw udah pernah cerita belom ya kalo gw nulis di Jurnal Depok. ceritanya gw nulis di kolom mahasiswanya gitu. and btw gw belum pernah publish tulisan gw di blog, nah ini salah satu tulisan gw mengenai pengemis, ini tulisannya buat headline loh, silakan dibaca..

Jalan Sawo adalah salah satu jalan menuju UI yang paling ramai dilewati oleh mahasiswa. Ada banyak pedagang berjualan di sana, mulai dari pakaian, makanan, sampai peralatan komputer. Tapi, satu yang saya ingat dari Jalan Sawo adalah seorang kakek yang setiap hari duduk di jalan, dengan kaki terbalut kain, dan sesekali memainkan lantunan lagu Sunda dengan sulingnya. Suatu hari saya berbincang dengannya. Si Kakek itu bilang kalau kakinya terkena letusan Gunung Galunggung, dan dia tidak dapat bekerja lagi di sawah. JIka saya kebetulan lewat jalan itu dan ada uang lebih, saya memberikan uang itu kepada si Kakek. Mungkin tidak seberapa, namun saya ikhlas bisa membantu orang lain.

Mengenai bolehkah memberi uang kepada pengemis selalu menuai pro dan kontra. Di satu sisi mengusik rasa kemanusiaan, di sisi lain menuai banyak larangan karena mengemis dianggap bermalas-malasan dan merugikan orang lain.

Beberapa bulan menjelang bulan ramadhan yang lalu Pemkot Depok pernah mengklaim kalau wilayahnya bebas dari pengemis dan anak jalanan (www.okezone.com), namun pada kenyataannya sekarang banyak yang kita temukan di beberapa tempat, termasuk di wilayah kampus kita sendiri.

Pemberian uang kepada pengemis sudah dilarang oleh Pemprov DKI Jakarta. Dinas Sosial Jakarta melarang warga yang kedapatan memberi sedekah pada pengemis. Merujuk Perda 8/2007 hakim PN Jakpus, Jakbar, Jaksel dan Jaktim memberi sanksi Rp 150.000-300.000 kepada para pemberi sedekah itu. Hukuman itu jauh lebih ringan dibandingkan ancaman hukuman dalam Perda Ketertiban Umum, yaitu kurungan maksimal 60 hari atau denda maksimal Rp 20 juta. Namun nampaknya di Depok sendiri belum ada larangan khusus untuk tidak memberikan uang kepada pengemis.

Penggunaan hukum positif ala Jakarta ini ditempuh pula oleh Makassar, Aceh, Palembang, dan Bali. Yang lain menggunakan otoritas lembaga keagamaan, seperti dilakukan MUI Sumenep Jawa Timur jelang Ramadhan 1430 Hijriah yang mengeluarkan fatwa haram mengemis. Menurut Ketua MUI Sumenep KH Syafraji mengemis akan menjadikan diri hina dan merugikan orang lain. “Islam sudah secara tegas melarang kegiatan mengemis karena termasuk bermalas-malasan,” paparnya (www.tempointeraktif.com).

Alasan seseorang hingga mengemis mungkin ada banyak. Salah satunya adalah keterpaksaan karena ekonomi. Namun, tak banyak pula yang menjadikan pengemis sebagai bisnis, yaitu dengan adanya jaringan pengemis yang dikuasai oleh orang-orang tertentu. Hal inilah yang membuat kita harus berhati-hati, jangan sampai niat baik kita ternyata disalahgunakan oleh orang-orang yang malas dan tidak mau berusaha.

Tagged , , , ,

One thought on “pro dan kontra pengemis- ECOLA Jurnal Depok 21-01-10

  1. […] pro dan kontra pengemis- ECOLA Jurnal Depok 21-01-10 January 2010 5 […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: