Merubah atau Memperbaiki

Masih ingatkah kamu waktu kita SD dikelas kita ada yang dijuluki si tonggos, si genius, pak ustad, rambut brokoli, si cebol, tiang listrik, dll. Atau jangan-jangan sampai sekarang pun julukan itu masih sering dilontarkan oleh teman-teman kita. Sebetulnya tanpa kita sadari diri kita telah menjadi sebuah brand di pikiran orang lain.

Bukan kebetulan saya adalah mahasiswa periklanan, jadi saya mau bahas dari sudut pandang anak iklan. Saya jadi ingat omongan dosen saya, Bapak RTS Masli dan Mbak Vasthi, bahwa semua orang itu beriklan. Mereka membangun karakter dari apa yang mereka pakai, bawa, ucapkan, lakukan, dan semua yang melekat dalam diri mereka. Kita ingin dilihat bahwa saya, kamu, dan dia adalah sebuah brand. Winda Dominika, Luna Maya, Tora Sudiro, David Beckham, Hitler, Tukul Arwana adalah sebuah brand, seperti kata Om Budiman Hakim dalam salah satu bukunya. Setiap brand memiliki image, yang terbentuk dalam pikiran orang lain terhadap diri kita. Jadi apabila diri kita adalah sebuah brand, dan brand itu memiliki kekurangan kita juga bisa melakukan rebranding. Yang jadi masalah sekarang, seringkali untuk merubah image, baik sebuah produk atau seseorang itu tidaklah mudah. Image tersebut sudah melekat selama bertahun-tahun dan sudah melekat di pikiran orang.

Kalau kamu emang cadel, dipaksain sampi kapan juga gak akan bisa ngomong ‘R’ dengan normal. Kalau suara kamu gak bagus ya terima aja jangan maksa nyanyi kaya Afgan. Setiap orang kan punya kelebihan masing-masing, jadi coba dong explore kelebihan yang kamu miliki. Saya sangat menyukai salah satu campaign dari car rental AVIS “ we’re only no.2, that’s why we try harder”.

Kalau saya disuruh berubah kok rasanya berat sekali ya, dan kayaknya susaaah banget, tapi kalau disuruh memperbaiki diri saya merasa bahwa saya memang bisa lebih baik dari yang sekarang. Jadi, saya lebih suka menggunakan kata memperbaiki daripada merubah. Hehehe, kok saya sok tau banget ya, kayak udah paling bener aja nih gw. Gini nih kalau kebanyakan dapet tugas buat rebranding.  Saya sekalian ngomong sama diri sendiri aja kok sekalian instropeksi. Terima kasih udah mau baca dan mudah-mudahan dapet dapet pelajaran juga.

Jadi daripada mengeluh “kenapa yak kok badan gw gak tinggi-tinggi”, atau “gua perlu ke salon nih, smoothing-an gw udah balik lagi,” atau “dimana ya cara les bisa ngomong ‘R’”, mendingan kita cari kelebihan diri kita untuk kita tonjolkan. Supaya teman-teman nggak lagi ngeliat kekurangan diri kita tapi kelebihan kita. Pasti kamu bakal seneng banget kalo orang akhirnya bilang “ Si Rio pendek tapi jago banget main bolanya”, atau si Nisa emang gak cantik tapi suaranya bagus banget euy”. Rasanya pasti seneng banget dikenal karena kelebihan yang kita miliki. It’s easier to fix than to change. Selamat memperbaiki diri! Untuk saya dan kamu..

One thought on “Merubah atau Memperbaiki

  1. Pieriseapse says:

    polite answers i like it

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: