Jalan-Jalan Ke Kota Tua

Kota Tua, Jakarta Tempo Doeloe

Kemarin, saya berkunjung ke kota tua. Kota tua adalah salah satu area wisata yang bagus untuk dikunjungi bagi mereka yang yang ingin merasakan suasana zaman masa kolonial dulu. Akses menuju Kota Tua cukup banyak, selain dengan kendaraan pribadi anda bisa naik kereta api atau bus Transjakarta sampai stasiun terakhir. Setelah itu Anda tinggal jalan kaki. Ini bukan pertama kalinya saya berkunjung ke kota tua, namun memang tempat ini tak pernah membosankan untuk dikunjungi.

Museum Sejarah Jakarta/ Museum Fatahilah

Mulai dari pintu masuk, tidak ada yang spesial. Hanya ada meja tiket yang dijaga oleh seorang bapak yang sudah tua. Dinding terlihat kusam dan pencahayaannya pun kurang bagus, karena banyak lampu yang mati. Apalagi lampu-lampu yang ada dalam display benda-benda bersejarah tersebut. Tak jarang juga saya lihat banyak coretan di beberapa tempat. Benda yang pajangan juga seperti tidak terawat, karena hanya digeletakkan saja di suatu pojok, seperti satu set peralatan rumah tangga yang terbuat dari anyaman. Saya tidak heran kenapa biaya masuknya hanya Rp 2000,-. Tapi benda- benda disini cukup lengkap mulai dari sejarah budaya lokal sampi masa-masa pendudukan perancis, belanda, portugis, dll. Saya lihat museum ini kebanyakan dikunjungi oleh rombongan anak sekolah. Museum ini memang dijadikan tempat untuk belajar mengenai sejarah Jakarta.

 

Museum Wayang

Museum ini perawatannya jauh lebih baik dari pada museum Fatahilah, mungkin karena museum ini memang baru selesai direnovasi. Wayangnya dimasukan ke display dan ditambah adanya pencahayaan yang membuat suasana museum lebih terbangun. Koleksinya juga cukup lengkap, bukan hanya wayang, tapi juga gamelan, topeng, dan beberapa koleksi dari negara lain. Pelayanan yang mereka punya juga cukup memuaskan, ada seorang petugas yang menghampiri kami dan menjelaskan tentang pagelaran yang mereka adakan setiap hari minggu, dan dia juga menawarkan cinderamata kepada kami dan beberapa turis asing yang ada di sana. Saya jadi berpikir, kedua museum ini harga tiketnya sama, letaknya berdekatan, namun perbedaannya begitu terasa, saya tidak tahu kenapa, padahal kalau dari segi pengunjung Fatahilah lebih banyak pengunjungnya.

Batavia Café

Ini pertama kalinya saya kedalam café ini. Mulai dari luar suasananya sudah sangat jadul. Apalagi ketika anda masuk ke dalam. Café itu terdiri dari dua lantai. Di lantai bawah terdapat bar dan panggung kecil. Interiornya ciri khas bar/café zaman dulu, yang masih dijaga sampai sekarang. Semua dinding di dalam café ini terpajang foto-foto yang sangat artistik, bahkan di tiang-tiang yang berada di tengah café juga terdapat bingkai foto. Semuanya foto tua, yang kebanyakan menggunakan model asing dengan latar belakang rumah berasitektur barat. Bahkan di dinding kamar mandinya juga dipenuhi foto! Eh, saya menemukan satu bingkai yang isinya bukan foto, tapi iklan sabun Lifebuoy zaman dulu, yang masih digambar tangan dan menggunakan ejaan lama. Makanan yang ditawarkan kebanyakan menu bule dan Chinese. Mereka juga menyediakan wine, vodka, beer, dll. Ya menurut saya sah-sah saja, melihat bahwa yang biasa makan di sini turis asing. Range harga cukup terjangkau,  mulai dari 16.000 rupiah.

Museum Bank mandiri

Letaknya di depan halte Transjakarta Kota, tinggal menyeberang, maka Anda akan langsung menemukannya. Museum ini tidak memungut biaya masuk, pengunjung hanya perlu menuliskan alamat e-mail, mungkin untuk keperluan promosi saja. Kami juga harus menitipkan tas di kantor pengurusnya. Isi dari museum ini seperti replika bank zaman dahulu dtambah dengan koleksi alat-alat perbankan yang cukup banyak. Semua benda-benda yang berukuran kecil ada di dalam display. Di taman yang ada di tengah gedung juga terdapat beberapa permainan anak-anak seperti ayunan, jungkat-jungkit, dll, dan ketika saya berkunjung kebetulan ada satu tim drumband bank Mandiri yang sedang berlatih di sana.

Nah, ternyata masih banyak lho sisi Jakarta yang belom pernah kita kunjungi. Masih banyak museum-museum yang sangat bagus untuk menambah wawasan kita. Mungkin, dengan lebih menghargai tempat-tempat yang ada di negeri sendiri, kita bisa lebih mencintai seni, budaya, dan sejarah kita. Cheerio!

Photos and content by Winda Dominika

Tagged , , , , , , , , , , , ,

2 thoughts on “Jalan-Jalan Ke Kota Tua

  1. mercerd says:

    interesting material, where such topics do you find? I will often go

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: